|
Oleh : Abdurrahman Wahid*
Abu Thalib pernah sekali waktu memergoki Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam dan 'Ali melakukan shalat, lantas dia menegur keduanya, namun manakala dia mengetahui bahwa hal tersebut adalah sebagai suatu keharusan dia memerintahkan keduanya untuk berketetapan hati (istiqamah). ASSABIQUNA AL-AWWALUN (Yang pertama Masuk Islam)
S etelah Allah menurunkan wahyu surat Al-Muddatsir ayat 1-7, maka Rasulullah memulai dakwahnya dengan mengajak masyarakat Arab untuk menyembah Allah dan meninggalkan berhala.
Pada awalnya metode dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah adalah bersifat sirriyyah (sembunyi-sembunyi) yang berlangsung selama tiga tahun pertama dakwahnya. Hal ini dikarenakan kedudukan Rasulullah yang masih lemah, ditambah lagi kandungan dakwah beliau yang bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan yang dianut masyarakat Quraisy masa itu, yaitu prinsip dan keyakinan yang penuh dengan nilai-nilai kesyirikan. Disamping itu juga Kondisi Makkah yang keras dan kental aroma agama nenek moyangnya itu menjadikan dakwah sembunyi-sembunyi adalah langkah awal yang bijaksana agar penduduk Makkah tidak kaget karena tiba-tiba menghadapi sesuatu yang menggusarkan mereka.
Pada tahap awal, Rasulullah menyeru orang yang paling dekat dengan beliau, anggota keluarga dan sahabat karib beliau dan siapapun yang dirasa memiliki kebaikan, yang sudah dikenal baik dan juga mengenal Rasulullah serta terkenal sifat-sifat luhurnya secara baik.
Mereka yang diseru ini langsung menjawab seruan beliau karena mereka sama sekali tidak menyangsikan keagungan pribadi beliau.
Dalam tarikh islam (sejarah Islam), mereka ini disebut sebagai As-Sabiqunal-Awwalun (yang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam). Mula-mula istrinya sendiri, Khadijah, kemudian saudara sepupunya Ali bin Abi Thalib. Kemudian, Abu Bakar, sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Lalu Zaid, bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya. Ummu Aiman, pengasuh Nabi sejak ibunya Aminah masih hidup juga termasuk orang yang pertama masuk Islam.
Sebagai seorang pedagang yang berpengaruh, di tambah lagi dengan budi pekertinya yang terpuji serta kedudukanya yang terhormat dimata masyarakat, Abu Bakar berhasil mengislamkan beberapa orang teman dekatnya, seperti Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin' Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidillah. Mereka dibawa Abu Bakar langsung kepada Nabi dan masuk Islam di hadapan Nabi sendiri. Mereka juga digolongkan sebagai generasi pertama dari kalangan para shahabat dan yang banyak berperan dalam dakwah Rasulullah pada masa berikutnya.
Kemudian setelah itu satu demi satu masyarakat Quraisy masuk Islam, seperti Bilal bin Rabah al-Habasyi, kemudian diikuti oleh Amin (Kepercayaan) umat ini, Abu Ubaidah Amir bin al-Jarrah yang berasal dari suku Bani al-Harits bin Fihr, Abu Salamah bin Abdul Asad, al-Arqam bin Abil Arqam (keduanya berasal dari suku Makhzum), Utsman bin Mazh'un - dan kedua saudaranya; Qudamah dan Abdullah -, Ubaidah bin al-Harits bin al-Muththalib bin Abdu Manaf, Sa'id bin Zaid al-Adawy dan isterinya; Fathimah binti al-Khaththab al-Adawiyyah ( saudari Umar bin al-Khaththab), Khabbab bin al-Arts, Abdullah bin Mas'ud al-Hazaly serta banyak lagi selain mereka.
Ibnu Ishaq berkata, "...Kemudian banyak orang yang masuk Islam secara berbondong-bondong baik laki-laki maupun wanita sampai akhirnya tersiarlah gaung "Islam" di seantero Makkah dan mulai banyak menjadi bahan perbincangan orang ".
Mereka masuk islam secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah menemui mereka dan mengajarkan Islam secara sembunyi-sembunyi dan perorangan.
Wahyu turun secara berkesinambungan setelah turunnya permulaan surat Al-Muddatstsir. Pada umumnya pada periode ini wahyu turun dengan ayat ayat yang pendek, berisi sanjungan bagi orang yang mensucikan jiwa dan celaan bagi yang mengotorinya disertai dengan penggalan kata yang indah dan lembut. Disamping itu juga berisi gambaran surga dan neraka yang seakan keduanya tampak di depan mata mereka, hal ini menimbulkan kerinduan seseorang terhadap syurga dan ketakutan terhadap neraka, sehingga mendorongnya untuk senantiasa melakukan kebaikan dan menjauhi kejahatan.
Perintah Shalat
Diantara waktu yang pertama-tama turun adalah perintah shalat, sebagaimana yang diriwayatkan Muqatil bin Sulaiman : "Allah telah mewajibkan Shalat pada permulaan Islam dua raka'at diwaktu pagi dan dua raka'at diwaktu sore hari ". Hal ini berdasarkan firman Allah : "Dan, bertasbihlah seraya memuji Rabbmu pada waktu pagi dan petang ". (QS. Al-Mukmin:55)
Menurut Ibnu Hajar, sebelum Isra' Nabi sudah pernah shalat, begitu pula para sahabat. Tetapi terdapat perbedaan pendapat, apakah ada shalat yang diwajibkan sebelum turunnya kewajiban shalat lima waktu atau tidak? Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang telah diwajibkan itu adalah shalat sebelum terbit dan terbenamnya matahari.
Al-Harits bin Usamah meriwayatkan dari jalur Ibnu Lahi'ah secara maushul (disambungkan setelah sanad-sanadnya mu'allaq [terputus di bagian perawi] dari Zaid bin Haritsah bahwasanya pada awal datangnya wahyu, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam didatangi oleh malaikat Jibril; dia mengajarkan beliau tata cara berwudhu. Maka tatkala selesai melakukannya, beliau mengambil seciduk air lantas memercikkannya ke faraj beliau. Ibnu Majah juga telah meriwayatkan hadits yang semakna dengan itu, demikian pula riwayat semisalnya dari al-Bara' bin 'Azib dan Ibnu 'Abbas serta hadits Ibnu 'Abbas sendiri.
Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa bila waktu shalat telah masuk, Nabi dan para shahabat pergi ke perbukitan dan menjalankan shalat disana secara sembunyi-sembunyi jauh dari kaum mereka. Abu Thalib pernah sekali waktu memergoki Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam dan 'Ali melakukan shalat, lantas dia menegur keduanya, namun manakala dia mengetahui bahwa hal tersebut adalah sebagai suatu keharusan dia memerintahkan keduanya untuk berketetapan hati (istiqamah). [lihat : Ar-Rahiq Al-Makhtum hal 71]
Kaum Quraisy mendengar kabar Dakwah Rasulullah
Walaupun dakwah Rasulullah dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan bersifat individu, akan tetapi lambat-laun hal tersebut sampai kepada kaum kafir Quraisy. Pada awalnya mereka tidak meghiraukan hal tersebut, mereka mengira bahwa Muhammad hanya salah seorang di antara mereka yang peduli terhadap urusan agama sama halnya yang biasa dilakukan Umayyah bin Ash-Shallat, Qus bin Sa'fidah, Amr bin Nufail dan orang-orang yang lain, karena Rasulullah juga tidak pernah menyinggung agama ataupun tuhan-tuhan mereka.
Tiga tahunpun berlalu, sementara dakwah masih berjalan secara sembunyi-sembunyi dan bersifat individu; dalam rentang waktu ini terbentuklah suatu jamaah Mukminin yang dibangun atas pondasi ukhuwwah (persaudaraan) dan ta'awun (solidaritas) serta penyampaian risalah.
Tatkala yang mengikuti ajakan Rasulullah lebih dari 30 laki-laki dan wanita, maka Rasulullah memilih salah satu rumah diantara mereka, yaitu di rumah Al-Arqam bin Abil Arqam sebagai tempat pertemuan.
Di rumah ini setiap hari para sahabat mendengarkan ayat-ayat Al-Qur'an dan penjelasannya dari Rasulullah. Pendeknya, di tempat inilah mereka menerima pembinaan dari Rasulullah secara terus menerus untuk kemudian menyebar ke berbagai lapisan masyarakat sebagai utusan dakwah.
Diantaranya, Rasulullah mengutus Khabbab bin Arts mengajarkan Al-Qur'an di rumah Fatimah binti Khattab bersama suaminya. Begitu pula yang dilakukan oleh Para Sahabat lainnya seperti Abu Bakar. Maka hari demi hari, sekalipun berjalan lambat, pengikut Rasulullah terus bertambah. Di akhir tahun ketiga, yang menerima dakwah Rasul mencapai 40 orang.
Hal ini terus dilakukan hingga turun wahyu yang mengharuskan Rasulullah menyampaikan dakwah kepada kaumnya secara terang-terangan; menentang kebatilan mereka serta menyerang berhala-berhala mereka.
* Mahasiswa S2, jurusan Fiqh & Ushul King Saud University, Riyadh.
Maraji' / Referensi
- Sirah ibnu Hisyam
- Ar-Rahiqul-Makhtum karya Syeikh Shafiyurrahman Mubarakfury.
- Sejarah Hidup dan perjuangan Rasulullah disarikan dari Ar-Rahiqul-Makhtum karya Syeikh Shafiyurrahman Mubarakfury.
- As-Sirah An-Nabawiyyah durus wa 'Ibar karya DR. Musthofa Assiba'i.
- Fiqhus Sirah An-Nabawiyah karya Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buthy
Trackback(0)
 |