|
Karena pengetahuan umat masih sangat minim terhadap sunnah, sering pula terlihat sikap berlebih-lebihan dan salah kaprah dalam penerapan sunnah ...
S etiap mukmin dan mukminah yang mengakui bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah utusan Allah, pasti mencintai semua yang datang dari sisi Beliau; perkataan, perbuatan, ketetapan dan sifat-sifatnya. Inilah yang disebut dengan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Semua pecintanya hendaklah menjadi orang terdepan yang paling menerapkan sunnah. Sebab, mereka tahu bahwa dengan demikian diharapkan berdekatan dengan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di akhirat nanti. Karena seseorang akan dibangkitkan bersama orang yang dicintainya.
Dewasa ini, kecintaan dan perhatian umat semakin besar (yang mudah-mudahan menjadi pertanda kebangkitan umat) serta kesadaran mereka akan urgensi sunnah dalam kehidupan mereka sehari-sehari.
Di mana-mana kita melihat banyak generasi muda dan orang-orang tua bersemangat menerapkan sunnah, baik dalam ibadah-ibadah maupun dalam mu'amalah.
Namun, karena pengetahuan umat -khususnya di negeri kita tercinta- masih sangat minim terhadap sunnah, sering pula terlihat sikap berlebih-lebihan dan salah kaprah dalam penerapan sunnah.
Lazimnya sesuatu yang baru diiringi semangat baru, dengan pengalaman yang kurang, tidak jarang pula terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap sunnah dengan mengatasnamakan penerapan dan pengagungan sunnah.
Agar hal ini tidak terus berulang, melalui tulisan yang ringkas ini, penulis hendak mengajak pembaca yang mulia untuk memperhatikan rambu-rambu yang mesti ditaati dalam memahami sunnah secara benar, sehingga tidak menimbulkan kesan terjadinya pelanggaran terhadap sunnah atas nama penerapan sunnah.
RAMBU-RAMBU MEMAHAMI SUNNAH
Agar pemahaman kita terhadap sunnah menjadi pemahaman yang benar dan dapat dipertanggung-jawabkan, bukan pemahaman parsial dan bersifat sektarian, maka perlu memperhatikan rambu-rambu yang disebutkan ulama kaum muslimin seperti yang akan penulis sebutkan di bawah ini.
Pertama: Agar pemahaman terhadap sunnah benar-benar lengkap dan menyeluruh, maka seseorang yang hendak memahami hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mesti mengumpulkan semua hadits yang berkaitan dengan suatu masalah.
Ini adalah penting, karena sebagian hadits ada yang bersifat umum, ditakhsis oleh hadits yang lain, atau bersifat mubham (tidak jelas maknanya) dijelaskan dalam hadits yang lain. Ali bin Al Madiny pernah berkata," Kalau kami belum meriwayatkan hadits dari empat puluh jalur (sanad), kami belum dapat memahaminya ".
Kedua: Menafsirkan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan pemahamannya pula, bukan seperti yang kita inginkan. Karena yang paling mengetahui maksud Beliau adalah dia sendiri.
Oleh sebab itu, hendaknya kaum muslimin menerapkan sunnah Beliau sesuai pula dengan yang Beliau terapkan.
Misalnya:
- Jika Beliau menyuruh kita untuk banyak bershalawat kepadanya, maka hendaknya kita bershalawat sesuai dengan cara yang Beliau ajarkan.
- Tatkala Beliau menyuruh kita berzikir kepada Allah setiap selesai shalat fardhu, hendaknya zikir tersebut juga dilaksanakan seperti Beliau melakukannya.
Di saat umat membuat cara-cara tertentu, pada masa-masa tertentu atau dalam bilangan-bilangan tertentu yang tidak dicontohkan oleh Beliau, berarti kita telah memahami sunnahnya bukan seperti yang Beliau inginkan.
Ketiga: Memahami sunnah dengan penafsiran para sahabat dan amalan-amalan mereka.
Sebab, para sahabat itu adalah murid-murid langsung Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Mereka adalah orang-orang sangat amanah mencontoh Beliau dan menyampaikannya kepada generasi setelah mereka.
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata," Kami hanya mencontoh (Nabi), tidak membuat-buat sesuatu yang baru ".
Keempat: Memahami sunnah dengan penafsiran para ulama salaf, yang dikenal integritas, kredibilitas dan dedikasinya dalam mengikuti dan mengamalkan ajaran dan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Namun, bila penafsiran mereka berbeda dengan penafsiran Nabi sendiri, atau pendapat mereka tidak didukung dalil yang kuat, maka tidaklah wajib mengikuti mereka. Karena, menurut para ulama, perkataan seorang ulama mesti dicarikan dalilnya, dan tidak bisa dijadikan dalil.
Kelima: Perlu pula dalam memahami hadits, bahwa ada diantara sunnah tersebut yang bersifat kondisional (mafhumul ma'na) sesuai dan diterapkan pada masa-masa tertentu, di tempat-tempat tertentu atau pada kondisi-kondisi tertentu karena makna tersebut.
Maka dalam hal ini, meninggalkannya karena makna tersebut janganlah dianggap sebagai meninggalkan sunnah.
Keenam: Bahwa sunnah, bila sudah shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tidaklah boleh ditolak dan didustakan semata-mata karena tidak terjangkau oleh akal.
Karena akal bukanlah ukuran dan patokan dalam menentukan mana yang benar dan mana yang batil. Akal hanyalah alat untuk memahami mana yang benar dan mana yang batil. Sedangkan sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal, bukan berarti tidak benar. Karena dalam syari'at yang diturunkan Allah ini banyak hal-hal yang terjangkau oleh akal sebagian manusia dan tidak terjangkau oleh sebagian yang lain. Dan banyak pula yang tidak diketahui hakikatnya kecuali oleh Allah saja. Kewajiban kita hanyalah menerima segala yang datang dari Allah dan Rasul melalui jalur yang shahih.
Demikianlah beberapa rambu-rambu yang penting diketahui oleh kaum muslimin agar pemahaman mereka terhadap sunnah menjadi pemahaman yang benar.
Semoga apa yang penulis goreskan di sini bermanfaat bagi kita semua. Amin.
*Dosen UIN Riau, Doktor Hadits Lulusan Universitas Islam Madinah.
Trackback(0)
 |