Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

Komentar Sahabat

Pluralisme Agama
apa pengertian anda tentang RAHMATALLIL ALAMIN
Dakwah Terbuka
Assalamualaikum.Wr.Wb. Apakah anda ingin mengetah...
Dakwah Terbuka
Apakah anda mengetahui makna dari pada ‘huruf’...
Dakwah Terbuka
Kalau Rasullullah SAW membenarkan 3 kali membaca Q...
Sejarah Singkat Ahma...
22.la vérité, malheureusement, pas uniforme. Voi...
Home Kajian Aqidah Islam Aqidah Islam Beriman Kepada Allah
Beriman Kepada Allah PDF Print E-mail
(5 votes, average: 4.80 out of 5)
Monday, 02 March 2009 19:19

Tauhid yang murni merupakan dasar dari segala Risalah Samawiyah

"Tidaklah seorang yang dilahirkan itu kecuali dilahirkan dalam keadaaan fitrah (islam)"…
…"Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai) anak". Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda'wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak"…

K
ita mengimani bahwa tauhid yang murni merupakan fitrah yang telah diciptakan Allah pada hamba-hamba-Nya, ia merupakan dasar bagi seluruh risalah samawiyah. Adapun yang muncul setelah itu dari berbagai macam ibadah kepada selain Allah, menisbatkan anak kepada Allah, meyakini-Nya telah bersatu ke dalam salah seorang ciptaan-Nya, semuanya itu merupakan kemusyrikan dan perubahan baru, yang para nabi dan rasul telah berlepas diri darinya.
Untuk menjelaskan tentang diciptakannya mahluk dengan fitrah tauhid, Allah telah berfirman "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", Atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?"(Al –A'raf: 172-173).

Allah swt menjelaskan bahwasanya Dia telah mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari tulang rusuk mereka seraya mereka bersaksi atas jiwa mereka bahwasanya Allah adalah Rabb dan pemilik mereka, dan bahwasanya tiada tuhan yang berhak disembah selain-Nya, karena Allah telah menciptakan mereka berdasarkan fitrah tersebut.


Allah swt berfirman, "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah)  agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (Ar-Rum : 30).
Para ulama dalam hal ini sepakat bahwa yang dimaksudkan dengan fitrah dalam ayat ini adalah islam.
Rasulullah saw bersabda, "Tidaklah seorang yang dilahirkan itu kecuali dilahirkan dalam keadaaan fitrah, kemudian kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana seekor hewan yang dilahirkan dalam kondisi lengkap, adakah kamu dapati dalam kondisi cacat?"(Muttafaq 'Alaih). Kemudian Abu Hurairah berkata : Bacalah –bila anda suka-ayat : "(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah)  agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" .(Ar-Rum : 30).
Maksudnya: kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi setelah anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, sebagaimana binatang yang menjadi pincang setalah dilahirkan dalam kondisi sehat.

Rasulullah saw bersabda, "Allah berfirman. "Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus, kemudian datanglah kepada mereka setan-setan yang menyesatkan mereka dari agama mereka serta mengharamkan atas mereka apa yang Aku halalkan bagi mereka." (HR. Muslim).
Allah swt menjelaskan bahwa dakwah seluruh nabi adalah agar manusia menyembah Allah semata, Ia berfirman, "Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (Al-Anbiyaa': 25).
"Dan ingatlah (Hud) saudara kaum 'Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): "Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar".(Al-Ahqaaf : 21).
Allah mengabarkan bahwa seluruh peringatan dari Nabi Hud dan nabi-nabi sesudahnya adalah ajakan untuk menyembah Allah semata. Firman Allah swt, "Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu". (An-Nahl : 36)
Allah swt menjelaskan bahwa seluruh nabi datang dengan menyerukan tauhid dan ajakan untuk menyembah kepada Allah semata seraya menghindari sesembahan selain Allah swt.
Firman Allah, "Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (Ali Imran : 64).

Peringatan ini mencakup para ahli kitab dari golongan Yahudi, Nasrani dan sejenisnya. Kalimatin Sawaa' (Kalimat/ketetapan yang tidak ada perselisihan) yang semuanya menyetujui dan tidak ada perselisihan tentangnya adalah menunjukkan ibadah hanya untuk Allah semata, serta tidak pula sebagian manusia menjadikan sebagian yang lain sebagai ilah selain Allah.
Rasulullah saw bersabda, "Para Nabi adalah ikhwah li'allat (saudara seayah) dengan ibu berbeda-beda, dan agama mereka satu." (Muttafaq 'Alaih). Maksudnya mereka sepakat dalam hal tauhid dan berbeda-beda dalam cabang syariat (amaliyah).
Yang dimaksud dengan Ikhwah Li'allat adalah saudara sebapak dengan berbeda ibu. Adapun saudara seayah dan seibu biasa disebut dengan Auladul A'yaan.
Firman Allah swt, "Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?". (Ali Imran : 79-80).

Allah menjelaskan bahwa tidak sepatutnya bagi seorang nabi di antara nabi-nabi Allah untuk menyeru manusia agar mereka menyembah dirinya selain Allah.

Apabila hal itu tidak patut dilakukan oleh golongan nabi-nabi dan utusan-utusan Allah, tentunya lebih tidak patut lagi untuk dilakukan manusia-manusia lainnya yang lebih rendah dari para nabi.
Allah telah menafikan anggapan orang-orang Nasrani yang menyatakan bahwa Al Masih menyeru manusia untuk menyembah dirinya dan ibunya selain Allah, dalam firman-Nya : "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib". Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu." (Al Maa'idah : 116-117).

Allah juga menafikan bahwa diri-Nya mempunyai anak serta mengabarkan bahwasanya Dia Maha Kaya yang mempunyai apa yang ada di langit dan bumi, dalam firman-Nya, "Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" Lalu jadilah ia." (Al-Baqarah : 116-117).
Dan firman-Nya, "Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempuyai anak". Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" (Yunus : 68).

Dan Firman-Nya, Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak", Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: "Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah", maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim." (Al-Anbiyaa' : 26-29).

Allah menjelaskan bahwa anggapan ini hampir saja menjadikan langit dan bumi pecah dan gunung-gunung menjadi runtuh, sebagaimana firman-Nya, "Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak". Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda'wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. " (Maryam : 88-95).

Disadur dari buku: " Untuk Setiap Muslim".



Tambahkan artikel ini pada website Social Bookmarking favorit anda
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! Yahoo! Free Joomla PHP extensions, software, information and tutorials.
Trackback(0)
Komentar (0)add comment

Tulis komentar.
kecilkan | besarkan

busy
Last Updated ( Sunday, 05 April 2009 04:06 )