|
Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala dengan hikmah-Nya yang dalam, menguji kesabaran mereka ketika ditimpa musibah, maka siapa yang menerimanya dengan kesabaran dan ketundukan diri, mengadukan dosa-dosa dan kelalainnya kepada-Nya dan memohon curahan rahmat dan ampunan-Nya, niscaya ia adalah orang yang beruntung dan mendapatkan kesudahan yang terpuji
S etelah musibah gempa melanda berbagai daerah di tanah air kita, banyak orang mengemukakan analisa, tanggapan dan komentar, mulai dari yang bernilai ilmiyah hingga yang berbau mistis. Diantara analisa yang mereka kemukakan bahwa gempa terjadi karena pergerakan lempengan benua dan ada juga yang mengungkapkan bahwa Indonesia berada di atas jalur rawan gempa dan apa yang terjadi hanyalah gejala alam biasa.
Lalu bagaimana kita sebagai seorang yang beriman menyikapinya?
Kita tidak mengingkari bahwa sebab yang diungkapkan oleh para ahli ilmu bumi tersebut, tetapi yang harus kita ingat, mampukah lempeng benua tersebut bergerak dengan sendirinya? Mampukah bumi itu bergoncang dengan sendirinya?
Jawaban logika orang yang berakal, tentu tidak! Pasti ada zat yang menggerakkan dan yang mengguncangkannya. Dialah Allah, pencipta alam semesta, Yang menggerakkan lempeng benua, mengguncangkan serta mendiamkan bumi sekehendak-Nya.
Dia-lah Allah yang memanggil langit dan bumi untuk datang menghadap-Nya, lalu keduanya datang dengan penuh tunduk.
{ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ
اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ}
Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati". (QS. Fusshilat: 11).
Jikalau saja langit dan bumi datang menghadap Allah dengan penuh ketundukan, apatah lagi hanya sekedar bergerak atau berguncang selama beberapa menit yang menyebabkan terjadinya musibah gempa!
Setelah kita yakin bahwa musibah gempa ini atas kehendak Allah Azza wa Jalla, lalu apa hikmahnya Allah menimpakannya kepada kita? Bukankah kita mendirikan shalat, membayarkan zakat dan berpuasa di bulan Ramadhan?
Pertama :
Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala dengan hikmah-Nya yang dalam, hujjah-Nya yang pasti dan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu memberi bencana dan cobaan terhadap para hamba-Nya, untuk menguji kesabaran mereka ketika ditimpa musibah, maka siapa yang menerimanya dengan kesabaran dan ketundukan diri, mengadukan dosa-dosa dan kelalainnya kepada-Nya dan memohon curahan rahmat dan ampunan-Nya, niscaya ia adalah orang yang beruntung dan mendapatkan kesudahan yang terpuji, Allah berfirman dalam kitab-Nya:
ألم . أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ .
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Aliif laam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (Q.S; Al 'Ankabuut: 1-3).
Kedua :
Allah telah menjelaskan di dalam banyak ayat Al quran bahwa bencana, siksaan dan azab yang menimpa umat-umat terdahulu, berbentuk; topan, angin bahorok, petir yang menyambar, banjir yang menenggelamkan, negeri yang dibenamkan, dan lain-lain, semuanya dikarenakan dosa-dosa dan kekafiran mereka, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta'ala:
{ فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنبِهِ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ
الصَّيْحَةُ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ }
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merakalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (QS. Al 'Ankabuut: 40).
Ketiga:
Tuan-tuan yang membaca artikel ini memang mungkin melakukan shalat, membayar zakat dan berpuasa Ramadhan. Akan tetapi saat tuan-tuan keluar dari rumah coba bandingkan, lebih banyak mana jumlah orang yang shalat dengan yang tidak? Coba lihat di jalan-jalan lebih banyak mana jumlah wanita yang menutup auratnya dari pada yang memamerkan auratnya? Coba lihat di kantor-kantor, perusahaan-perusahaan lebih banyak mana orang yang menghasilkan uang dengan cara yang halal daripada yang tidak halal? Tontonan kita di setiap rumah berdendangkan musik dan tarian yang dikutuk Allah!
Nabi bersabda:
( إذا ظَهَرَ الزِّنا والرِّبا فِيْ قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بأَنْفُسِهم عَذَابَ الله )
Bila zina dan riba merajalela di sebuah negri, berarti mereka mengundang kedatangan azab Allah. HR. Thabrani, hadis hasan.
Hadis diatas menjelaskan bahwa bencana datang bukan saja bila tidak ada sama sekali orang yang shalat, berzakat dan berpuasa, akan tetapi jumlah maksiat lebih banyak sehingga merajalela.
Dalam hadis yang diriwayatkan Zainab binti Jahsy lebih ditegaskan lagi. Dia bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam," Apakah kami akan ditimpa bencana juga sedangkan masih ada orang salih ditengah-tengah kami?
Nabi menjawab," Iya, dikala kemaksiatan dan perzinahan lebih banyak". HR. Bukhari.
Di masa pemerintahan Umar bin katthab pernah terjadi gempa mengguncang kota Madinah, lalu Umar berkhutbah seraya berkata," Wahai manusia, gempa ini terjadi disebabkan dosa yang kalian lakukan! Jika terjadi lagi aku akan tinggalkan (hijrah) dari kota Madinah".
Tindakan Yang Harus Dilakukan:
Setelah kita tahu penyebab hakiki terjadinya bencana gempa, lalu apa tindakan yang dapat kita perbuat untuk mencegah terulangnya bencana itu datang kembali?
Ada beberapa hal yang harus kita lakukan:
1. Bertaubat serta beristighfar kepada Allah.
Allah telah berjanji didalam Alquran bahwa Dia tidak akan menyiksa kaum yang selalu beristighfar.
{ وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ
وَمَا كَانَ اللّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ }
Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. Al Anfaal: 33).
Janji Allah ini terbukti pada umat Nabi Yunus.
Tatkala Nabi Yunus telah berputus asa, tidak mampu lagi mengajak kaumnya untuk beribadah kepada Allah, maka dia mengancam kaumnya akan ditimpa bencana. Lalu Nabi Yunus meninggalkan negri tersebut. Tepat pada hari yang dijanjikan oleh Nabi Yunus.. tiba-tiba langit berubah menjadi merah menyala siap membakar seluruh penduduk negri tersebut.
Syahdan, seluruh penduduk negri Neinawa (Irak) keluar menuju padang luas... ketakutan... bertaubat... beristighfar... menangis meminta ampunan Allah selama 40 hari, setelah melihat kesungguhan mereka bertaubat Allah mencabut azab-Nya.
Inilah firman Allah:
{ فَلَوْلاَ كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلاَّ قَوْمَ يُونُسَ لَمَّآ آمَنُواْ
كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الخِزْيِ فِي الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ }
Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu), beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu. (QS. Yunus: 98).
Janji itu juga pernah terbukti pada abad ke- 7 Hijriyah.
" Pada tahun 654 H muncul api di daerah Hijaz menerangi punuk unta di kota Bashrah. Api (yang diakibatkan oleh semburan lahar panas) muncul dari daerah Hijaz yang diawali dengan terjadinya gempa yang dahsyat pada malam Rabu 5 Jumadil Akhir tahun 654 H, api itu terus menyala, dan baru padam di waktu dhuha pada hari Jumat, api tersebut muncul dari perkampungan Quraizha(bekas perkampungan Yahudi) dekat kota Madinah, dan (lumpur panas) terus menjalar melewati pegunungan lalu menghanguskan setiap yang dilewatinya. Bentuknya seperti air sungai berwarna merah, bunyi nyalanya seperti petir. Api (lumpur panas) itu terus menjalar dan berakhir sebelum ± 7 KM dari kota Madinah, anehnya hembusan angin ke kota Madinah tetap dingin. Api itu menyala di angkasa selama 5 hari, lidah api terlihat dari pengunungan di kota Mekkah ".
Al Hafiz Abu Syamah menjelaskan," Para penduduk kota Madinah semuanya mengungsi ke masjid Nabawi, mereka bertaubat, beristighfar, mereka bersedekah dan memerdekakan seluruh budak, sehingga Allah menghentikan semburan lahar.
2. Memperbanyak amal salih, diantaranya; bersedekah.
Karena sedekah dapat meredam amarah Allah.
Nabi bersabda:
( إِنَّ الصَدَقَةَ لَتُطْفئُ غَضَبَ الربِّ وَتَدْفَعُ مِيْتَةَ السُّوْء )
Sesungguhnya, sedekah dapat meredam kemurkaan Allah dan dapat menolak kematian yang menggenaskan. HR. Tirmizi.
Diriwayatkan, bahwa saat terjadi gempa pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, maka beliau memerintahkan para pejabatnya untuk banyak bersedekah.
3. Amar makruf -nahi munkar
Seperti yang telah kita jelaskan bahwa kita saja yang menjadi salih belum ada jaminan bencana tertolak akan tetapi kita haruslah mengajak semua orang untuk beramal kebajikan serta mencegah terjadinya kemungkaran.
Karena seperti yang digambarkan Nabi:
"Perumpamaan orang yang beramar ma'ruf nahi munkar dan orang yang melanggar larangan Allah seperti suatu kaum yang menaiki sebuah kapal.. lalu mereka membuat undian maka sebagian mereka berada di ruang atas, dan sebagaian mereka di ruang bawah. Orang yang berada di ruang bawah bila ingin mengambil air laut mesti melewati orang yang di ruang atas, mereka berkata : "Jikalau kita lubangi dinding bawah (kapal) tentulah kita tidak akan menganggu orang yang berada di atas". Andai orang yang berada di atas membiarkan mereka melakukan hal tersebut niscaya seluruh mereka celaka, dan andai orang yang di atas mencegah tindakan orang bawah, selamatlah orang yang berada di bawah dan selamatlah mereka seluruhnya". HR. Bukhari
4. Berdo'a.
Karena nabi bersabda:
( لا يَرُدُّ القضاءَ إلا الدُّعَاء )
Tidak ada satu halpun yang dapat menolak takdir Allah melainkan doa. HR. Tirmizi. Hadis hasan.
Marilah, kita bersama-sama berdoa kepada Allah:
اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا البَلاَءَ ، والوَبَاءَ ، والغَلاَءَ ،
والزَّلاَزِلَ ، وَالْمِحَنَ ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَن
Ya Allah, cegahlah terjadinya malapetaka, wabah penyakit, kenaikan harga barang, bencana gempa dan seluruh cobaan, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. *Mahasiswa Pasca Sarjana Univ. Islam Imam Saud, Riyadh
Trackback(0)
 |