|
Oleh : Erwandi Tarmizi. MA*
Godaan itu berupa tuntunan dan tontonan tindakan maksiat dan dosa yang senantiasa menghampiri seorang mukmin dimanapun dia berada; di tempat kerja dia sering menyaksikan dosa pengkhianatan terhadap sumpah dan janji yang telah diikrarkan ... mengurangi jam kerja, penyalahgunaan wewenang adalah sebagian bukti nyata.
O rang yang hidup di zaman ini selalu dihadang oleh berbagai rintangan yang menghalanginya untuk merealisasikan tujuan hakiki dari hidupnya yang telah digariskan Allah dalam firman-Nya:
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Rintangan tersebut jauh lebih berat dibandingkan rintangan yang dihadapi oleh generasi yang hidup pada masa-masa sebelumnya.
Oleh karena itu, maka Sifat keMaha adilan Allah menghendaki bahwa mukmin yang hidup di zaman ini dan mampu istiqamah merealisasikan tujuannya yang hakiki berhak mendapatkan imbalan yang lebih dari imbalan yang diberikan kepada mukmin sebelumnya, Rasulullah bersabda:
فإن من ورائكم أيام الصبر، الصبر فيه مثل قبض على الجمر للعامل
فيهم مثل أجر خمسين رجلا يعملون مثل عمله غيره قال يارسول الله
أجر خمسين رجلا منهم ؟ قال " أجر خمسين منكم ( رواه أبو داود )
"Sesungguhnya akan ada suatu masa setelah masa kalian, dimana bersabar (mentaati Allah) bagaikan menggenggam bara, orang yang beramal pada masa tersebut mendapatkan pahala sama dengan 50 pahala orang lain". Salah seorang shahabat bertanya," apakah pahala 50 orang diantara mereka? Rasulullah menjawab," 50 orang diantara kalian". H.R. Abu Daud.
Rintangan tersebut berbentuk godaan untuk melakukan maksiat, godaan itu berupa tuntunan dan tontonan tindakan maksiat dan dosa yang senantiasa menghampiri seorang mukmin dimanapun dia berada; saat seorang berada di tempat kerja dan tugasnya dia sering menyaksikan dosa pengkhianatan terhadap sumpah dan janji yang telah diikrarkan saat diterima pada sebuah instansi atau perusahaan, mengurangi jam kerja, penyalahgunaan wewenang adalah sebagian bukti nyata.
Saat seorang mukmin berada di ruangan belajar menuntut ilmu, kecurangan dari murid dan guru untuk mendapatkan dan memberikan nilai sering ditemukan, bahkan pada saat seorang mukmin melakukan ibadah yang paling puncak di tempat yang paling suci ( di hadapan ka'bah al musyarrafah ) tidak jarang dia mendengar seruling syaitan yang disenandungkan melalui telepon genggam.
Dampak buruk maksiat
Untuk memperbaiki kenyataan diatas mari kita simak beberapa akibat buruk yang disebabkan oleh maksiat, semoga dengan menghayatinya semakin kuat tahanan kita menghadapi godaan berbuat maksiat dan semakin cepat kita bertaubat jika dosa terlanjur kita perbuat.
Kita dapat membagi dampak tersebut kepada dampaknya terhadap diri dan dampaknya terhadap masyarakat.
- Dampaknya terhadap diri:
- Dosa merusak rohani.
Rasulullah bersabda:
إن العبد إذا أخطأ خطيئة نكتت في قلبه نكتة سوداء فإذا هو نزع
واستغفر وتاب صقل قلبه وإن عاد زيد فيها حتى تعلو قلبه وهو الران
الذي ذكر الله
" sesungguhnya seorang hamba bila melakukan suatu dosa maka terpercik suatu titik hitam di hatinya, jika dia bertaubat dan beristighfar , maka hatinya menjadi cemerlang kembali, jika dia mengulanginya maka ia bertambah hitam seperti raan yang dikatakan Allah, " Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka". H.R. Ashabussunan.
Akibat dari rusaknya rohani yang disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh seorang mukmin, akan berlanjut dengan rusaknya jasmani orang tersebut. Hal ini telah dibuktikan oleh ilmu kedokteran modern betapa banyak penyakit jasmani; seperti penyakit jantung, diantara pemicunya adalah tekanan jiwa ( rohani).
Dalam firman Allah ada isyarat kearah itu:
"Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah" An Nisa' :76
- Dosa merusak ma'rifi (akal/kecerdasan).
Tatkala imam Syafi'i belajar di majlis Imam Malik, melihat kepintaran, kecerdasan serta kecakapan imam Syafi'I, imam Malik berwasiat:
إني أرى الله قد ألقى على قلبك نورا فلا تطفئه بظلمة المعصية
"saya melihat bahwa Allah telah memberikan cahaya dalam hatimu maka jangan engkau padamkan dengan melakukan maksiat".
Imam Syafi'I pernah bersenandung:
شكوت الى وكيع سوء حفظي ... فأرشدني إلى ترك المعاصي
وقال اعلم بأن العلم نور ... ونور الله لا يؤتاه عاصي
Aku mengadu kepada Waki' buruknya hafalanku
Dia menunjukiku agar meninggalkan maksiat
Ia berkata," ilmu adalah nuur
Dan nuur Allah tidak diberikan kepada pendosa
- Dampaknya terhadap masyarakat.
- Rusaknya hubungan orang yang berbuat maksiat dengan lingkungan sekitarnya, bahkan dengan anak dan istrinya.
Salah seorang ulama salaf mengatakan, " Bila saya melakukan suatu maksiat saya akan dapatkan dampaknya pada tingkah laku keluarga dan tungganganku".
'Aisyah menulis surat kepada Mu'awiyah:
أما بعد فإن العبد إذا عمل بمعصية الله عاد حامده من الناس ذاما
"jika seseorang melakukan maksiat, maka orang yang dahulunya memujinya berubah mencercanya".
Abu darda' berkata kepada muridnya:
ليحذر إمرأ أن تلعنه قلوب المؤمنين من حيث لا يشعر ثم قال:
أتدري مم هذا؟ قلت : لا ، قال: إن العبد يخلو بمعاصي الله
فيلقى الله بغضه في قلوب المؤمنين من حيث لا يشعر
"Hendaklah kalian waspada terhadap kutukan hati orang-orang mukmin. Mereka bertanya," bagaimana hal itu terjadi? Ia menjawab," sesungguhnya bila seseorang melakukan dosa walaupun tersembunyi, Allah memberikan rasa benci di dalam jiwa orang-orang mukmin kepadanya, tanpa ia sadari"
- Turunnya azab Allah kepada masyarakat tersebut secara umum, bilamana dosa telah dilakukan dengan terang-terangan.
Allah mengusir nabi Adam dari surga karena dosa:
"maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. Allah berfirman: "Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan". (Al A'raaf 22-24)
umat nabi Nuh ditenggelamkan akibat dosa yang mereka lakukan, Allah berfirman:
Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: "Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman). Maka dia mengadu kepada Tuhannya: "bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)." Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. ( Al Qamar 9-12).
Umat Nabi Hud dibinasakan akibat dosa yang mereka lakukan, Allah berfirman:
"Kaum 'Aad pun mendustakan(pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang. Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku." (Al Qamar: 18-21).
Umat Nabi Luth dibinasakan akibat dosa yang mereka lakukan, Allah berfirman:
"Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi". (Huud 82).
Tatkala para shahabat Nabi akhir zaman menderita kekalahan dalam perang uhud, mereka mengevaluasi apa penyebab kekalahan tersebut, Allah menjawab:
"Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Ali Imran: 165).
Penutup:
Inilah beberapa akibat buruk yang ditimbulkan oleh perbuatan dosa dan maksiat, semoga dengan ini daya tahan kita terhadap godaan untuk melakukan dosa semakin kuat, dan semakin cepat kita bertaubat kepada Allah andai terlanjur melakukannya, sebelum peringatan Allah menimpa diri, keluarga dan orang-orang yang kita cintai...
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِنا مَا قَدَّمْنا وَمَا أَخَّرْنا، وَمَا أَسْرَرْنا وَمَا أَعْلَنْا، وَمَا أَسْرَفْنا
وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّا أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ.
"Ya Allah! Ampunilah aku akan (dosaku) yang aku lewatkan dan yang aku akhirkan, apa yang aku rahasiakan dan yang kutampakkan, yang aku lakukan secara berlebihan, serta apa yang Engkau lebih mengetahui dari pada diriku, Engkau yang mendahulukan dan mengakhirkan, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau".
Disampaikan pada pengajian bulanan KBRI Riyadh 29 juli 2007
* Mahasiswa S3, Fak. Shariah, Imam Saud University, Riyadh- KSA
Trackback(0)
 |