Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

Komentar Sahabat

Pluralisme Agama
apa pengertian anda tentang RAHMATALLIL ALAMIN
Dakwah Terbuka
Assalamualaikum.Wr.Wb. Apakah anda ingin mengetah...
Dakwah Terbuka
Apakah anda mengetahui makna dari pada ‘huruf’...
Dakwah Terbuka
Kalau Rasullullah SAW membenarkan 3 kali membaca Q...
Sejarah Singkat Ahma...
22.la vérité, malheureusement, pas uniforme. Voi...
Home Kajian Akhlaq wa Suluk Akhlaq wa Suluk Nyontek, Berdosakah?
Nyontek, Berdosakah? PDF Print E-mail
(3 votes, average: 5.00 out of 5)
Thursday, 16 April 2009 04:15

 
Oleh: Abu Mushlih MT*.
 


Saudaraku, ingatlah bahwasanya ujian di sekolah bukanlah segala-galanya dalam hidup ini! bisa jadi kita lulus ujian dengan nilai yang tinggi, tapi didapat dengan cara-cara yang tidak baik, namun kita lupa bahwasanya ujian yang lebih berat sudah menunggu kita, mungkin lebih baik bagi kita mengulang pelajaran satu semester atau satu tahun yang dilalui dengan cara yang terpuji, dibandingkan nanti harus mendapatkan azab yang pedih.



mencontek
U
jian adalah kata-kata yang sangat ditakuti oleh sebagian besar pelajar/ mahasiswa, apalagi bagi mereka yang sudah mendekati ujian akhir yang akan menentukan kelulusan mereka dari jenjang pendidikan yang sedang ditempuh.
 
Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal, mulai dari cara-cara terpuji seperti belajar dengan rajin selama mengikuti pelajaran di kelas kemudian mengulanginya di rumah sendiri atau bersama dengan teman-teman, ada pula yang memaksakan diri belajar semalam suntuk untuk memahami dan menghafal pelajaran yang akan diujikan esok harinya atau yang lebih dikenal dikalangan pelajar dengan sistem “SKS” (Sistem Kebut Semalam), dan ada pula yang menempuh cara-cara yang tidak terpuji (curang) dalam menyelesaikan jawaban ujian tersebut, seperti mencontek punya kawan, lihat buku di bawah meja atau di toilet, membuat “jimat” , memanfaatkan tekhnologi dan sebagainya, dan yang lebih parah lagi adalah ketika adanya kompromi bersama diantara sesama mahasiswa/pelajar untuk saling “membantu” dalam ujian tersebut dengan memberikan/meminta jawaban dari teman, apalagi kalau kerja sama tersebut mendapat restu dari pengawas atau malahan pengawasnya yang membantu mereka dalam menjawab soal-soal yang ada. Allahulmusta’an.
 
Kecurangan yang terjadi dalam pelaksanaan ujian – terlebih lagi di ujian akhir  untuk mencapai standar minimal kelulusan - seolah-olah sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat kita, sehingga kadang-kadang kita mendengar bahwa pengawasan ujian akhir harus disertai dengan pengawalan sejumlah aparat kepolisian (sebagaimana terjadi pada musim ujian tahun 2008 lalu di beberapa daerah di sumatera utara) yang bertujuan untuk meminimalisir praktek-praktek kecurangan dalam pelakasanaan Ujian Akhir Nasional (UAN).

Terlepas dari pro dan kontra yang muncul di masyarakat terkait Ujian Akhir Nasional, baik dari standar minimal kelulusan yang sudah ditentukan oleh pemerintah, jumlah mata pelajaran yang diujikan dan kurikulum yang sering berubah sehingga merepotkan berbagai pihak, disini kita akan mencoba melihat fenomena kecurangan yang sering terjadi ketika pelaksanaan ujian tersebut dari sudut pandang agama.

Tidak diragukan lagi bahwa perilaku curang (dalam agama disebut Ghisy) dengan segala bentuk dan caranya - termasuk curang dalam mengerjakan soal-soal ujian - adalah perbuatan tidak terpuji.

Muhammad bin ‘Athiyah al-Jabiry dalam sebuah artikelnya di www.said.net yang berjudul : “Alghisysyu fi al-imtihaanaat” menyebutkan beberapa faktor yang mendorong atau melatarbelakangi seseorang melakukan kecurangan dalam menghadapi ujian :

1.    Lemahnya kontrol keimanan.
Iman yang lemah memberi peluang kepada seseorang untuk berlaku tidak terpuji, sedangkan pribadi yang dipenuhi dengan keimanan yang kuat kepada ALLAH tidak akan berani melakukan kecurangan, karena dia sadar bahwa kecurangan tersebut akan menyebabkan kemurkaan ALLAH Subhanahu Wata’ala.

2.    Lemahnya pendidikan yang diberikan.
Lemahnya pendidikan yang diberikan oleh kedua orang tua dalam keluarga, maupun oleh guru-guru/dosen di sekolah. Karena mungkin sebagian dari mereka lebih mementingkan penyelesaian materi bidang studi (sisi kognitifnya) dibandingkan dengan penanaman akhlak dan perilaku (sisi afektif dan psikomotorik) dalam penyampaian materi pelajaran.

3.    Tipu daya syetan.
Syetan senantiasa berusaha untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan dengan berbagai cara. Dia menghembuskan rasa was-was kepada kita dengan menimbulkan fikiran bahwa soal-soal ujian pasti sulit, tidak ada cara lain untuk menyelesaikannya kecuali dengan menyontek atau membuat “jimat” dan semisalnya, sehingga waktu kita habis untuk membuat catatan-catatan yang ditulis dengan huruf sangat kecil (kadang di foto copy dengan ukuran yang diperkecil), atau mencari celah bagaimana supaya bisa “sukses” nyontek sewaktu menyelesaikan soal-soal yang akan dihadapi nanti.
Kalau seandainya waktu yang terbuang sia-sia tersebut dimanfaatkan untuk belajar dengan penuh konsentrasi, niscaya akan banyak pelajaran yang bisa dikuasai, dan kita bisa menghadapi soal-soal dengan tenang, sehingga ketika menuliskan jawabanpun fikiran bisa fokus. Tapi itulah tipu daya syetan yang kadang-kadang kurang kita sadari.

4.    Faktor malas dan kepribadian yang lemah
Sebagian teman-teman kita yang rajin bisa mempersiapkan diri mereka dengan aktif belajar mulai dari awal semester, sehingga dia bisa mempersiapkan diri dengan baik, namun banyak diantara kita yang lalai dan menganggap remeh pelajaran, sehingga lebih menyibukkan diri dengan hal-hal yang kurang bermanfaat.
Ketika masa-masa ujian datang, maka kita “pontang-panting” tak tentu arah dan gelisah karena tidak tahu harus mulai dari mana mengulangi pelajaran yang sudah lewat. Sehingga akhirnya yang timbul dalam fikiran adalah mengambil jalan pintas yang bisa “menyelamatkan” yaitu dengan berlaku curang atau menyontek.
Inilah dia pribadi yang lemah, tidak punya visi dan pendirian dari awal, sehingga dia tidak punya rasa percaya diri yang cukup untuk menghadapi ujian.

5.    Kekhawatiran tidak lulus
Rasa khawatir tidak bisa lulus dari jenjang pendidikan yang sedang ditempuh atau khawatir nilai ujian anjlok sehingga harus mengulangi lagi bidang studi tersebut di semester berikutnya menyebabkan jiwa jadi tidak tenang, selalu gelisah, sehingga akhirnya berani menempuh jalan yang tidak benar, hanya untuk sekedar bisa mendapatkan nilai yang bisa memenuhi standar minimal kelulusan.

Menyontek/curang adalah Kejahatan

Barangkali banyak diantara kita yang mengira bahwa menyontek di waktu ujian sudah menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan, namun kita kurang menyadari bahwa perbutan tersebut merupakan sebuah kejahatan yang terlanjur dianggap biasa dengan berbagai macam alasan yang dibuat-buat.

Padahal kalau kita cermati lebih dalam, maka sesungguhnya perbuatan itu adalah kejahatan yang merugikan berbagai pihak, sebagaimana disinggung oleh Prof. Dr. Sulaiman al-’ied dalam sebuah artikel beliau bahwa menyontek merupakan kejahatan kepada diri sendiri, guru bidang studi, lembaga pendidikan tempat dia menimba ilmu, negara tempat bernaung dan yang terlebih penting lagi, menyontek tersebut merupakan sebuah bentuk pelanggaran terhadap agama, karena Nabi Muhammad ShalAllahu ‘alaihi wassallam bersabda :
مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي
“Siapa saja yang  menipu (berbuat curang) maka dia tidak termasuk bagian dari umatkui” (HR.Muslim) .

Hadits tersebut berlaku umum untuk berbagai kecurangan yang dilakukan termasuk didalamnya adalah kecurangan yang dilakukan waktu ujian. Sehingga para ulama menghukum haram perbuatan curang/menyontek yang dilakukan sewaktu ujian (lih. Fatawa Lajnah Daimah 12/199 dst). Lebih dari itu Syekh Utsaimin menegaskan :
"tidak boleh bagi seorang pelajar/mahasiswa berbuat curang ketika ujian, karena kecurangan tersebut termasuk dosa besar berdasarkan hadits Nabi ShalAllahu ‘alaihi wasallam :” Siapa saja yang  menipu kami (berbuat curang) maka dia tidak termasuk bagian dari kami”, karena dengan kecurangannya tersebut dia akan mendapatkan tanda kelulusan (ijazah) padahal dia tidak berhak menerimanya, kemudian dia menempati posisi tertentu di pemerintahan dimana posisi tersebut tidak diberikan kecuali kepada orang yang punya ijazah (tadi), kalau seandainya ijazahnya tersebut didapatkan dengan kecurangan, maka dikhawatirkan gaji yang diterimanya menjadi haram (hukumnya) karena dia mengambil gaji tersebut padahal dia tidak berhak mendapatkannya disebabkan karena dia tidak mendapatkan nilai (yang ada di ijazahnya) . Secara benar atau lebih tepatnya dikatakan pada hakekatnya dia belum mendapatkan nilai yang membuat dia layak untuk menduduki jabatan tersebut, maka gaji yang diambilnya termasuk dalam kategori memakan harta dengan cara yang bathil". (Fatawa Nuur ‘ala addarb: 13/489 )

maka gaji yang diambilnya termasuk dalam kategori memakan harta dengan cara yang bathil".


Saudaraku, ingatlah bahwasanya ujian di sekolah bukanlah segala-galanya dalam hidup ini! bisa jadi kita lulus ujian dengan nilai yang tinggi, tapi didapat dengan cara-cara yang tidak baik, namun kita lupa bahwasanya ujian yang lebih berat sudah menunggu kita, mungkin lebih baik bagi kita mengulang pelajaran satu semester atau satu tahun yang dilalui dengan cara yang terpuji, dibandingkan nanti harus mendapatkan azab yang pedih.

Adakah terpikir oleh kita bahwa suatu saat nanti kita akan menghadapi ujian yang tidak bisa diakal-akali di hadapan Allah?
Adakah terlintas dalam fikiran kita – ketika menghadapi ujian di dunia ini – bahwa suatu saat nanti kita akan dimintai pertanggung jawaban terhadap perbuatan yang sudah kita lakukan?
Adakah kita ingat, dengan tangan mana kita akan menerima catatan aktifitas kita di dunia ini, dengan tangan kanan ataukah dengan tangan kiri?

Akankah timbangan kebaikan kita lebih berat dari pada timbangan kejahatan yang kita lakukan ?
Marilah kita hadapi ujian di dunia ini dengan cara-cara yang baik dan sportifitas yang tinggi, berusaha dengan sunggung-sungguh, mengerahkan segenap kemampuan yang ada di jalan yang lurus, dan jangan lupa untuk selalu berdoa kemudian bertawakal kepada Allah. Pasti Allah akan memberikan yang terbaik buat kita, Allah berfirman dalam Surat Ath-Thalaq ayat 2-3 yang artinya :
“…barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.

Selamat menempuh ujian, semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan kesuksesan kepada kita semua, kesuksesan di dunia dan terlebih lagi kesuksesan di akhirat nantinya. WAllahu a’lam bish shawaab.
Maraaji’ :
1.    Fatawa Lajnah Daaimah
2.    Fatawa Nuur ‘ala addarb
3.    Artikel Alghisysyu fi al-imtihaanaat oleh Mhd.’Athiyah al-Jabiry
4.    Artikel La Tagisy oleh Prof. Dr. Sulaiman bin Qasim al-‘ied

* Mahasiswa S2, Jurusan Aqidah King Saud University, Riyadh.



Tambahkan artikel ini pada website Social Bookmarking favorit anda
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! Yahoo! Free Joomla PHP extensions, software, information and tutorials.
Trackback(0)
Komentar (4)add comment
0
Ummu Syakira: ...
Semoga pelajar dan mahasiswa sukses dalam ujian dengan belajar sungguh2 serta meraih nilai bagus tanpa nyontek
1

April 20, 2009
Vote: +0
0
Abu Ibrahim: ...
Almarhum ayah saya berpesan kepada saya ketika saya SD," biar dapat nilai 5 tetapi itu hasil sendiri,jangan curang mencontek punya orang lain meski dapat hasil bagus..".
Tetapi ketika saya ujian nasional SD,guru saya berpesan kepada kami, "kalo kalian ujian,harus bekerjasama,mencontek tidak apa2 asal sesama teman sekolah..." hmmmmmm....
2

April 23, 2009
Vote: +0
0
Ari Suntoro: ...
Memang ada paradoks dalam sistem nilai budaya kita
Nilai-nilai agama tidak lagi menjadi pegangan. Akhlaq menjadi sesuatu yang kuno. Semuanya demi mencapai jalan pintas keduniawian. Itu semua terjadi di negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Salah siapa ini kiranya?
Masyarakat yang bebalkah? Ulama yang terlalu mengawang-awang, tak berpijak ke bumi? Pemerintah? Orang tua yang penuntut?
3

April 24, 2009
Vote: +0
0
pandhi: ...
klo sudah terlanjur kuliah gmna??
apa harus ngulang lagi?? dari SMA misalnya??
4

June 18, 2009
Vote: +0

Tulis komentar.
kecilkan | besarkan

busy
Last Updated ( Thursday, 16 April 2009 04:45 )