Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

Komentar Sahabat

Pluralisme Agama
apa pengertian anda tentang RAHMATALLIL ALAMIN
Dakwah Terbuka
Assalamualaikum.Wr.Wb. Apakah anda ingin mengetah...
Dakwah Terbuka
Apakah anda mengetahui makna dari pada ‘huruf’...
Dakwah Terbuka
Kalau Rasullullah SAW membenarkan 3 kali membaca Q...
Sejarah Singkat Ahma...
22.la vérité, malheureusement, pas uniforme. Voi...
Islam Liberal
Pluralisme Agama PDF Print E-mail
Sunday, 04 April 2010 00:00

 
Oleh:Endang Sasmita, Lc*
 


Kaum pluralis mengklaim bahwa pluralisme menjungjung tinggi dan mengajarkan toleransi, tapi justru mereka sendiri tidak toleransi karena menafikan “kebenaran ekslusif” sebuah agama. Mereka menafikan klaim “paling benar sendiri” dalam suatu agama, tapi justru faktanya “kaum pluralislah yang mengklaim dirinya paling benar sendiri dalam membuat dan memahami statement keagamaan”.


Diantara virus ganas yang sengaja disuntikan dan disebarkan kepada kaum muslimin oleh para propagandis liberal untuk melumpuhkan aqidah kaum muslimin adalah paham sesat dan kufur bernama pluralisme agama. Ia lahir dari rahim liberalisme. Pluralisme agama sebagaimana yang didefinisikan MUI ketika memfatwakan haramnya paham tersebut beserta sekularisme dan liberalisme, adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar, sedangkan agama yang lain  salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk surga. (Teks Fatwa MUI tentang aliran Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme, seperti dimuat dalam buku Pluralisme Agama hal 3).

Paham kufur ini sebenarnya berasal dari yahudi dan nasrani yang dengan sengaja digulirkan kepada kaum muslimin untuk menyeret mereka keluar dari Islam dan menjadi murtad. Paham dan teori ini dikalangan yahudi dan nasrani (barat dan eropa) sudah tergolong lawas yang dihembuskan sejak zaman Rosululloh diutus dan ditegakkan lagi pada abad ke 19 termasuk salah satu bentuk permusuhan mereka orang-orang yahudi dan nasrani (eropa dan barat) terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Para pengusung paham ini mengatakan bahwa agama-agama seperti yahudi, nasrani, islam, budha, hindu, konghucu, kedudukannya sama seperti halnya kedudukan madzhab-madzhab yang ada pada Islam. (Majmu Fatawa 4/203). Semuanya sama hanya teknisnya saja yang berbeda-beda, tetapi intinya sama menuju Alloh. (Lihat propaganda sesat penyatuan agama hal 24).

Pluralisme_AgamaDalam wacana pemikiran Islam khususnya di Indonesia, wacana pluralisme agama masih merupakan hal baru dan tidak mempunyai akar idiologis atau bahkan teologis yang kuat. Gagasan pluralisme agama lebih merupakan perspektif baru yang ditimbulkan oleh proses penetrasi kultural barat modern dalam dunia Islam.

Pendapat ini diperkuat oleh realita bahwa gagasan pluralisme agama dalam wacana Islam, baru muncul pada masa-masa perang dunia II, yaitu ketika mulai terbuka kesempatan besar bagi generasi-generasi muslim untuk mengenyam pendidikan di universitas-universitas Barat, sehingga mereka dapat berkenalan dan bergesekan langsung dengan budaya Barat. Dalam waktu yang sama, gagasan pluralisme agama menembus dan menyusup ke wacana pemikiran Islam. Antara lain melalui karya-karya pemikir mistik barat muslim seperti Rene Guenon (Abdul Wahid Yahya) dan Frithjof Schuon (Isa Nuruddin Ahmad). (Makalah melacak pluralisme agama hal 2). Karya-karya mereka sarat dengan pemikiran-pemikiran dan tesis-tesis atau gagasan-gagasan yang menjadi inspirasi dasar bagi tumbuh kembangnya wacana pluralisme agama.

Sayyid Hossein Nasr, seorang penganut Syi’ah merupakan salah satu tokoh yang paling bertanggung jawab dalam mempopulerkan gagasan pluralisme agama dikalangan “Islam tradisional”. Ia mencoba menuangkan tesisnya tentang pluralisme agama dalam kemasan “kebenaran abadi (Al-hikmah Al-kholidah / parennial wisdom). Yaitu sebuah wacana menghidupkan kembali kesatuan metafisikal yang tersembunyi dibalik ajaran dan tradisi-tradisi keagamaan yang pernah dikenal manusia semenjak Adam AS. Menurutnya, perbedaan agama dan keyakinan hanyalah simbol-simbol dan kulit luar, inti dari agama tetap satu.

Saat ini wacana pluralisme agama modern muncul dengan berbagai trend dan bentuknya. Ini menggambarkan sebuah fakta secara telanjang bahwa betapa dominan dan hegenominya Barat (yahudi dan Nasrani), baik dari segi politik, ekonomi, peradaban maupun kultur.

KELEMAHAN PLURALISME AGAMA

Pluralisme agama memiliki sejumlah kelemahan mendasar seperti yang dikemukakan oleh Dr. Anis Malik Thoha diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Kaum pluralis mengklaim bahwa pluralisme menjungjung tinggi dan mengajarkan toleransi, tapi justru mereka sendiri tidak toleransi karena menafikan “kebenaran ekslusif” sebuah agama. Mereka menafikan klaim “paling benar sendiri” dalam suatu agama, tapi justru faktanya “kaum pluralislah yang mengklaim dirinya paling benar sendiri dalam membuat dan memahami statement keagamaan”. Patut dicatat, bahwa”any statement about religion is religious statement”, para pluralisme tampaknya tidak sadar.

  2. Adanya pemaksaan nilai-nilai dan budaya barat (westernisasi) terhadap negara-negara belahan dunia bagian Timur, dengan berbagai bentuk dan cara, dari embargo ekonomi sampai penggunaan senjata dan pengerahan militer secara besar-besaran terhadap negara-negara yang enggan menerapkan gagasan pluralisme. Semua harus bernaung dibawah jargon Tatanan Dunia Baru. Jadi sebenarnya mereka tidak toleran. Mereka merelatifkan Tuhan-tuhan yang dianggap absolut oleh kelompok-kelompok lain seperti Alloh, Trinitas, Yahweh, Trimurti dan lain sebagainya. Namun disaat yang sama, secara tanpa sadar mereka juga mengklaim bahwa hanya tuhan mereka sendiri yang absolut. Tuhan yang absolut menurut mereka ini namanya seperti yang diusulkan John Hick (seorang teolog dan prof filsafat agama dari the claremont Graduate University, California)(pluralisme X), adalah “THE REAL”  yang kebetulan ia dapatkan padanan katanya dalam tradisi Islam sebagai “AL-HAQQ” . Tapi anehnya, ia menolak “AL-HAQQ” ini sebagai “THE REAL” yang sebenarnya hanya dengan alasan bahwa “AL-HAQQ” telah mengalami proses akulturasi konseptual dalam kultur dan tradisi tertentu, yaitu Islam. Sehingga menurutnya “AL-HAQQ” tidaklah beda dengan konsep-konsep tuhan Impersonal dalam tradisi-tradisi lain, seperti Nirguna Brahma Hinduisme En Soph dalam Yudaisme Kabbalah, dan Godhead dalam mistik kristen.(Pluralisme hal XI)
Jadi menurut John Hick, nama-nama Tuhan dalam berbagai agama dan tradisi hanyalah sebagai bentuk-bentuk manifestasi dari “THE REAL” ini. Oleh karena itu, semuanya adalah “relatif” alias tak “absolut”. Dengan demikian semua orang harus mengimani dan menyembah tuhannya John Hick ini. Jadi pada hakekatnya, tanpa sadar mereka telah membangun absolutismenya sendiri. Dan pemikiran pluralisme agama itu sarat dengan ketidak konsistenan, standar ganda dan distorsi.

Sejalan dengan ide “THE REAL”nya John Hick, William James (Filosof Amerika 1842-1910 M) juga meluncurkan ide “Republican Banquet”. Setiap pluralisme selalu mengandalkan adanya “a hosh culture” atau tuan rumah budaya yang menerima dan menjamu semua budaya yang datang. Jadi ia sebagai tuan rumah yang menyajikan hidangan kepada para tamunya yang berasal dari berbagai macam agama, ras dan suku. Sebagai tuan rumah ia (pluralisme) harus memperlakukan tamunya dengan ramah, adil dan tidak boleh mengecewakan mereka. Tapi nyatanya mereka malah bertindak tidak adil, tidak ramah dan sering kali memaksakan kehendaknya pada para tamunya.

Jika dicermati, Pluralisme Agama sebenarnya merupakan agama baru, dimana sebagai agama dia punya tuhan sendiri, nabi sendiri, kitab suci sendiri dan ritual keagamaan sendiri.

Pluralisme tidak membenarkan penganut atau pemeluk agama lain untuk menjadi dirinya sendiri, atau mengekspresikan jati dirinya secara utuh, seperti mengenakan simbol-simbol keagamaan. Jadi, wacana pluralisme sebenarnya merupakan upaya menyeragamkan segala perbedaan dan keberagaman agama. Ini jelas bertentangan dengan sunnatulloh yang pada gilirannya akan mengancam eksistensi manusia itu sendiri. Karena itu aneh sekali jika gagasan ini dikembangkan.

Dengan demikian sungguh tepat apa yang telah difatwakan MUI tentang keharaman mengikuti paham pluralisme agama.

*Dosen Sekolah Tinggi Imam Syafi'i, Cilacap.



Tambahkan artikel ini pada website Social Bookmarking favorit anda
Reddit! Del.icio.us! Mixx! Free and Open Source Software News Google! Live! Facebook! StumbleUpon! Yahoo! Free Joomla PHP extensions, software, information and tutorials.
Last Updated ( Sunday, 11 April 2010 20:41 )
 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3